
Saat ini, untuk sebagian orang di Indonesia, internet mungkin sudah menjadi kebutuhan pokok. Tapi itu tentu bagi orang-orang yang mampu, dimana kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya seperti rumah, tabungan, atau mungkin juga kendaraan dan barang-barang lainnya sudah terpenuhi. Kalau kebutuhan dasar itu belum terpenuhi, rasanya orang di Indonesia belum memikirkan untuk melakukan aktifitas online seperti ber-Fecebook-ria via internet. Yang pertama didahulukan tentu pemenuhan kebutuhan pokok tersebut.
Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi masyarakat di Amerika sana. Kemarin saya lihat sebuah tulisan di The Wall Street Journal (WSJ), yang menyampaikan laporan tentang tumbuhnya penggunaan internet di kalangan tunawisma, alias orang yang tidak punya tempat tinggal tetap.
Kok bisa ya? Menurut WSJ, komputer murah dan akses internet gratislah yang mendorong terciptanya fenomena itu di sana. Apalagi penduduk di sana kelihatannya sudah sangat aware alias melek dengan komputer dan internet. Banyak hal yang dilakukan secara online, misalnya lamaran kerja atau juga pekerjaan kantor.
Ada seorang Paul Weston, yang telah kehilangan pekerjaan sebagai pramuniaga hotel sejak Desember dan tinggal di penampungan, dan sekarang berkeinginan untuk menjadi programmer komputer. Dengan Macintosh Powerbook-nya yang dia bilang sudah jadi semacam sekoci penyelamat hidup, dia nongkrong di sebuah toko makanan yang ada wireless-internet gratisnya, dia cari pekerjaan dan membuat program komputer untuk dijual. Dia juga mengirim email ke pejabat kota agar kondisi tempat penampungannya diperbaiki.
Lain lagi pengalaman Lisa Stinger yang mengajar komputer dan ketrampilan kerja buat tunawisma dan masyarakat berpendapatan rendah. Menurut dia, orang-orang ini (yang dia ajar maksudnya) sangat-sangat sadar internet. Mereka bela-belain menabung untuk beli komputer/laptop, walaupun beberapa dari mereka bahkan buta huruf lho. Si Lisa Stringer ini bahkan sampai merasa perlu mendesak mereka untuk tidak beli laptop sampai kondisi ekonomi mereka stabil.
Well, itu disana. Dengan kondisi itu, setiap orang jadi memiliki akses yang luas terhadap informasi, terutama informasi online, termasuk buat golongan masyarakat yang kurang mampu.
Bagaimana di sini? Di Indonesia? Wah, sampai tercipta kondisi seperti itu di sini rasanya masih jauh banget. Kenapa? pikir aja sendiri, hehehe…. Banyak sebablah, harga komputer masih mahal. Internet gratis? Bisa ‘gitu? Belum lagi kebutuhan hidup lainnya yang berat biayanya, terutama bagi yang kurang mampu. Yah, bersyukur sajalah, masih bisa internetan, ber-facebook-ria, dan bisa baca blog ini
Stay cool.
.



Wowh… Keren banget ya….
Kalo mau masang speedy gratis,
Termasuk gratis biaya bulanan, daftar aja pake surat keterangan miskin dari kelurahan….
Coba aja….
Hehe
di sini internet masih mahal
nah tu dia… biaya internet di sini mahal… lagian para tuna wisma di sana dpt jatsh bulanan dari pemerintah.. mirip blt gitu… cmn rutin dan lebih banyak..
Saia baru bisa gratis kalau di kantor ajah
lanjut boss postingnya..
kalau istilah blue
blue serasa kagak punya rumah karena sering ke warnet berjam jam tuk facebook kan hehehhe……..
salam hangat selalu
pa cabar?
yang penting fesbuk ON terus…
Pertanyaan : Kira2 pake dial up ato???
Mantap mantap mantap
walah internet gratis kok di amrik
pantesan
kunjungi blogku.
Mantafff neh artikelnya, indonesia mungkin 5 atau 10 tahun lg baru bisa merasakan internet gratis. Apalagi kalau wimax sdh ter realisasi, wuih mantaff itu. Salam kenal deh..
Link sudah saya add di americanster.com mas, mohon di linkback blog saya. Salam blogger, terimakasih.
untuk indonesia masih jauh. yg hidup buat sekedar cari makan aja masih banyak, boro2 mikir internetan.
Boro-boro ya ? buat makan aja susah
emang, harga laptop di amrik murah banget yah?
Mungkin kalau orang sini daripada punya laptop tapi tiduran di kolong jembatan, ya mendingan uangnya buat ngontrak rumah lah, atau cari kos-kosan yang oke
Hehehe… banyak kok di Indonesia yang memberi akses internet gratis… lihat para pegawai di pemerintahan/PNS (swasta pasti lebih banyak), tanya sama mereka apakah berfesbuk ria seharian mereka mengeluarkan untuk bayar internet barang seribu rupiah?…
Membaca artikel ini, salut pada orang-orang di luar sana, merekapada nyadar internet. Jika Gramedia memplot diri sebagai jendela dunia, maka internet lebih dahsyal lagi, Teropong Dunia… Menyisir ke segala arah sampai dasar sekalipun… Hehehe…
jadi ceramah disini…. Kunjungan rutin dari Cas Stuff…
Ihhhhhhh keren bgt sih??? hahahahahahaha.. bagus, sudah saatnya para tunawisma di Indonesia dapat berkomunikasi dgn orang luar menggunakan Internet…
bisa kok……. di sini pun (indonesia) bisa online gratis kalo tau caranya meskipun terbatas dan putus-putus tentunya tapi tetep bisa, aye juga pake nih, lumayan bisa tau dunia luar, he he he
Tapi perlu dicontoh tu semangatnya orang sono (amric)