
Di akhir bulan Maret ini ada sebuah kampanye terkait soal lingkungan hidup, yaitu Earth Hour 2010. Kampanye ini cukup terasa gemanya karena disampaikan lewat berbagai media baik media cetak, iklan televisi, dan juga media online di internet, termasuk berbagai artikel blog yang khusus membahasnya.
Sekedar informasi terutama buat yang belum tau (masa seh…) Earth Hour merupakan sebuah gerakan global untuk mematikan lampu dan peralatan listrik selama 60 menit (satu jam) yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan atas perubahan iklim. Gerakan 60 Earth Hour dilaksanakan setiap Sabtu terakhir bulan Maret. Gerakan Earth Hour ini pertama kali digagas oleh WWF dan The Sydney Morning Herald pada tahun 2007 yang diikuti oleh 2,2 juta penduduk Sydney.
Di Indonesia sendiri, gerakan ini cukup mendapat sambutan, dengan kesiapan berbagai instansi dan kelompok serta anggota masyarakat sendiri yang bersedia mematikan listriknya.
Saya bukan mau bahas tentang penjelasan tentang Earth Hour ini sih, yang sebenarnya sangat bagus untuk menanamkan kesadaran kita akan keselamatan bumi, salah satunya dengan melakukan penghematan listrik.
Ini ada kejadian yang mungkin sebenarnya bukan hal aneh bagi sebagian masyarakat, yang bersamaan waktunya dengan pelaksanaan gerakan Earth Hour ini, yaitu Sabtu malam Minggu tanggal 28 Maret 2010. Jadinya malah lucu
*
Palu (ANTARA News) – Program Earth Hour untuk memadamkan lampu selama satu jam pada Sabtu malam tidak berlangsung di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Pantauan ANTARA News di sejumlah wilayah di Palu memperlihatkan kondisi yang gelap gulita karena pemadaman bergilir, bukan karena Earth Hour. Bahkan, sebagian besar warga Kota Palu juga mengaku tidak begitu paham dengan apa yang dimaksud Earth Hour. Sejumlah warga mengaku tidak menerima sosialisasi tentang pelaksanaan Earth Hour itu.
“Saya pernah melihat iklannya di televisi tapi lupa kapan harus melakukannya,” kata Awaluddin, warga Palu timur.
Warga Kota Palu sendiri biasa mengalami pemadaman listrik hingga berjam-jam dalam satu hari.
“Kalau hanya mematikan lampu selama satu jam saja kami sanggup,” katanya.
Sementara itu, Jumiati, warga Palu Barat, mengaku mengetahui adanya program Earth Hour tapi tidak melaksanakannya.
“Bagaimana mau mematikan lampu, di rumah kami baru menyala listrik sejak pemadaman dari pukul 18.00 Wita,” kata ibu rumah tangga ini.
*
Kekekeke… kita berpikir positif aja deh, mungkin PLN termasuk institusi pemerintah yang paling mendukung gerakan ini. Lah di tempat saya sendiri sering mati listrik. Nggak cuma satu jam, tapi berjam-jam. Jadinya cuma bisa manyun.
*
Happy… hour…!
.
| [FOTO+VIDEO] Tempat dengan Cuaca Paling Ekstrim di Dunia | [PIC] Mengapa Kingkong Suka Memanjat Gedung Tinggi? |



Kalau di tempat saya tidak melaksanakannya… sebab di sini adalah warnet, jalan nyari uangnya ya dengan menyalakan listrik….
Coba kalo pemiliknya punya kesadaran ya…. (sebenarnya salah saya juga sich yang tidak memberitakannya kepada Beliau)
gpp bro, dimaafkan
.